Festival Mi-Reng 2025 resmi dimulai di Bentara Budaya Gianyar pada Rabu 2 April 2025, ditandai dengan masterclass pembuka oleh I Made Kartawan, Ph.D., seorang pakar gamelan bertaraf internasional. Dengan mengusung tema “New Music for Gamelan”, acara ini mengupas secara mendalam sistem pelarasan gamelan Bali.


Kartawan, yang juga merupakan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar serta tuner gamelan berpengalaman, membagikan wawasannya mengenai empat pilar pelarasan gamelan Bali. Pilar-pilar tersebut meliputi Ulu Suara (nada dasar), Sruti (interval nada), Angkep-angkepan (harmoni), dan Ombak (gelombang suara).


"Tidak ada standar nada yang baku dalam gamelan Bali. Hal ini justru memberi ruang bagi kreativitas tanpa batas," ujar Kartawan, doktor lulusan University of Canterbury, Selandia Baru, pada 2022.


Dalam sesi masterclass bertajuk “Sistem Pelarasan dalam Gamelan dan Tantangan Kekinian”, Kartawan membagikan pengalamannya dalam melaras gamelan di berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Denmark, dan Kanada. Ia juga menyoroti karya komposer Amerika, Collin McPhee, yang banyak terinspirasi oleh gamelan Bali hingga melahirkan komposisi orkestra "Tabuh-tabuhan".


Menurut Kartawan, Mi-Reng menjadi wadah penting bagi musisi muda untuk bereksplorasi di luar lingkungan akademik formal. "Acara seperti ini sangat diperlukan untuk memperluas wawasan dan mendorong inovasi dalam musik gamelan," tambahnya. Festival ini dikuratori oleh Wayan Gde Yudane dan Warih Wisatsana, dua figur yang aktif dalam perkembangan musik gamelan kontemporer.


Salah satu peserta, Dega Pande, seorang komposer muda asal Bangli, mengungkapkan antusiasmenya terhadap teknik pelarasan yang dipaparkan dalam masterclass tersebut. "Ini kesempatan langka untuk belajar langsung dari ahlinya. Saya ingin mengembangkan gamelan dengan pendekatan yang lebih kontemporer," ujarnya.


Selain masterclass, Festival Mi-Reng 2025 yang berlangsung hingga 14 April 2025 ini juga menghadirkan berbagai program, seperti sarasehan (Loka Wacana), pertunjukan kolaboratif, dan diskusi publik (Gema Wacana). "Gamelan harus terus hidup melalui inovasi, tetapi tetap mempertahankan jiwa tradisinya," pungkas Kartawan dalam penutupan sesi masterclass.


Berita ini telah diperbaharui pada Rabu, 02 April 2025 23:40 WITA