Sekaa Teruna (ST) Purwa Jati Kumara Gana, Banjar Teges Kanginan, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, kembali menunjukkan kreativitas dalam perayaan Hari Raya Nyepi tahun ini. Dengan tema Warsaparwa, mereka menciptakan ogoh-ogoh berbahan dasar kulit bawang merah dan bawang bombai seberat 60 kilogram yang menyusut menjadi 30 kilogram setelah dikeringkan.


Tidak hanya itu, ogoh-ogoh juga dihiasi dengan bahan alami lainnya, seperti daun talas dan kulit jagung. Inovasi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap penggunaan material ramah lingkungan sesuai dengan peraturan pemerintah, sekaligus sebagai tantangan baru dalam mengolah bahan organik menjadi karya seni.


I Wayan Gede Sandiyoga, perwakilan dari ST Purwa Jati Kumara Gana, menyampaikan bahwa penggunaan bahan alami tidak hanya didasarkan pada komitmen terhadap lingkungan, tetapi juga pertimbangan pendanaan. "Kami mendapatkan bahan-bahan tersebut dari berbagai restoran di sekitar Ubud," ujarnya pada Minggu 23 Maret 2025.



Pembuatan ogoh-ogoh ini dimulai sejak 14 Januari 2025 dengan diawali upacara nuasen karya. Hingga kini, pengerjaan sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Sandiyoga mengakui, salah satu tantangan terbesar adalah pemasangan kulit bawang merah yang harus dilakukan satu per satu, memakan waktu lama, dan membutuhkan ketelitian ekstra.


Tidak hanya itu, bagian ogoh-ogoh yang dilengkapi dengan modul mesin, terutama di area bunga yang ditempati oleh figur Brahmana, juga menghadapi kendala dalam penyetelan akibat minimnya pengalaman di bidang mekanik. Namun, dengan semangat gotong royong dan kerja sama anggota ST yang berjumlah 140 orang, hambatan tersebut dapat diatasi.


Rencananya, ogoh-ogoh ini diikutsertakan dalam lomba pada 22 Maret 2025 kemarin, dan akan diarak pada Hari Pengerupukan pada 28 Maret 2025.


ST Purwa Jati Kumara Gana berharap karya ini dapat menginspirasi komunitas lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus melestarikan tradisi dengan cara yang inovatif. "Semoga ogoh-ogoh ini tidak hanya menjadi kebanggaan kami, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian budaya," pungkas Sandiyoga.


Berita ini telah diperbaharui pada Minggu, 23 Maret 2025 12:53 WITA